Mudun Lemah, Kenalkan Anak dengan Bumi

MOJOKERTO – Setiap orang tua pasti berharap anaknya mampu menjalani kehidupan di dunia dengan baik, lancar tak ada halangan. Berbagai usaha pun dilakukan. Selain menadahkan tangan berdoa kepada Sang Khalik, juga melaksanakan tradisi turun temurun.

Mudun lemah, demikian orang Jawa menyebut tradisi tersebut. Sebuah tradisi yang dilakukan orang tua untuk mengenalkan anak tercintanya yang berusia tujuh bulan kepada bumi. Mengiringi itu, kedua orang tua berharap anaknya mampu berdiri sendiri dalam menempuh kehidupan.

Kemarin, Ahmad dan Yuli, pasangan suami istri asal Sedati Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto melaksanakan tradisi itu. Anjas Septian Ramadani, putra pertamanya yang sudah berusia tujuh bulan itu dikenalkan dengan bumi. Acara itu digelar di halaman rumahnya.

Pasutri ini pun menyiapkan segala kelengkapannya. Antara lain, nasi tumpeng lengkap dengan sayur mayur, bubur merah dan putih, jajan pasar lengkap, tetel (uli, Red) lima macam warna meliputi, merah, putih, hitam,hijau, jambon (jingga), dan bunga setaman.

Selain itu, juga tak ketinggalan tangga yang dibuat dari batang tebu merah hati, sangkar ayam yang dihiasi janur kuning atau kertas hias, padi, kapas, sekar telon (bunga tiga macam, melati, mawar dan kenanga), beras kuning, uang kertas dan recehan, barang yang bermanfaat, misalnya buku, alat-alat tulis dan sebagainya yang dimasukkan ke dalam sangkar.

Mengawali pelaksanaan tradisi itu, bayinya dimandikan air bunga setaman. Setelah selesai, anak dikenakan pakaian baru yang bagus. “Dimandikan itu maksudnya, agar bayi dapat menjalani kehidupan yang bersih dan lurus,” ungkap Ahmad, kemarin.

Kemudian anak dikirap agar kenal dengan lingkungan sekitar diiringin musik hadrah. Tak lama berselang, anak mulai dibimbing berjalan (dititah) dengan kaki menginjak lima ketan tetel. Hal itu, menurutnya, agar anak selalu ingat dengan tanah airnya. Belum cukup itu, anak tujuh bulan itu dinaikkan ke tangga yang dari tebu wulung. “Naik tangga, agar ia mendapat kehidupan sukses dan dinamis setahap demi setahap,” katanya.

Berlanjut prosesi, anak dimasukkan ke dalam kurungan ayam. Di dalam kurungan telah dimasukkan benda bermanfaat, mulai dari buku, Alquran, uang, alat-alat tulis, dan mainan. Orang tua pun tinggal menunggu, benda apa yang diraih anaknya. Sebab, benda yang pertama kali diambil sang bayi akan melambangkan kehidupannya kelak. (abi/yr)
Radar Mojokerto,  2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: