Mari Cegah Flu Singapura Beredar!

Senin, 20 April 2009 | 20:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Flu Singapura atau penyakit tangan, kaki dan mulut yang sering ditemui pada anak dan bayi mulai santer menimpa masyarakat Indonesia.

Untuk mencegah penularan virus itu, masyarakat diimbau agar menjaga kebersihan perorangan seperti cuci tangan dengan sabun, menutup mulut dan hidung bila batuk dan bersin, serta tidak menggunakan secara bersama-sama alat-alat rumah tangga dan alat kebersihan pribadi.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Prof Tjandra Yoga Aditama, dalam siaran pers yang diterbitkan Pusat Komunikasi Publik Depkes, Senin (20/4), di Jakarta, menanggapi maraknya pemberitaan penyakit ini di media massa.

Menurut Tjandra Yoga, penyakit ini bukan tergolong baru. Masa inkubasinya 3-7 hari. Penyakit ini menular melalui kontak langsung cairan hidung dan tenggorok, saliva atau air liur, cairan dari blister atau tinja pasien. Masa penularan terbesar adalah pada minggu pertama sakit.

Pada dasarnya penyakit ini tergolong ringan, pengobatan hanya simtomatik atau mengatasi gejala, dan mengonsumsi makanan yang cukup protein serta kalori. “Penyakit ini bisa disembuhkan dalam 7-10 hari,” kata Tjandra Yoga.

Meski demikian, masyarakat diimbau untuk bersikap waspada, karena risiko tertular dapat diturunkan dengan menjalankan pola hidup bersih dan sehat.

Penyakit tangan, kaki dan mulut memiliki tanda-tanda seperti demam, kemerahan, dan pelepuhan di telapak kaki, tangan dan kulit bagian dalam rongga mulut, tidak nafsu makan, lesu dan nyeri tenggorok. Satu-dua hari setelah demam, timbul keluhan nyeri di mulut mulai dari melepuh sampai kemudian dapat menjadi berlendir. Keadaan itu dapat terjadi di lidah, gusi dan bagian dalam mulut lain.

Bila ditemukan tanda- tanda yang membahayakan penderita, seperti gejala neurologi, muntah berulang, sesak nafas, dan halusinasi, pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit terdekat. “Secara umum, kalau anak demam selama 2-3 hari juga sebaiknya dikonsultasikan ke petugas kesehatan terdekat,” kata Prof. Tjandra Yoga

Penyebab penyakit ini umumnya adalah enterovirus (EV), termasuk oxsackievirus A16, EV 71 dan echovirus. Namun sangat jarang PTKM disebabkan oleh EV 71. Adapun PTKM yang diakibatk an oleh EV71 juga dapat menyebabkan meningitis dan bahkan encephalitis, seperti yang terjadi di Malaysia pada tahun 1997, Taiwan di tahun 1998 dan China tahun 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: